Kajian Fiqih, Sesuatu Yang Hukumnya Najis Wajib Dibersihkan

Posted on

darah itu najis

Kajian Fiqih, Sesuatu Yang Hukumnya Najis Wajib DibersihkanDalam Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah (21:25) disebutkan bahwa para fuqaha sepakat, darah itu dihukumi haram dan najis, darah tersebut tidak boleh dimakan, dan tidak boleh dimanfaatkan. Para ulama hanya berbeda pendapat pada darah yang sedikit. Tentang kadar sedikit pun, mereka berselisih pendapat.

Dalilnya di antaranya adalah,

قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ

“Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi – karena sesungguhnya semua itu rijsun (kotor).” (QS. Al-An’am: 145). Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari menyatakan bahwa yang dimaksud rijsun di sini adalah najis dan kotor. (Jami’ Al-Bayan, 8:93)

وعن أسماءبنت ابي بكر رضي الله عنها، انّ النبيّ صلى الله عليه وسلم قال في دم الحيض يصيب الثوب تحتّه ثمّ تقرصه بالمال، ثم تنضحه ثمّ تصلّي فيه، متفق عليه

Dari Asma binti Abu Bakar al-Siddiq (radhiyAllahu ‘anhu) bahwa Nabi (shollallahu’ alaihi wasallam) pernah

Baca juga   Bacaan Niat Mandi Hari Raya Idul Fitri Lengkap Arab Beserta Artinya Dan Penjelasannya

bersabda berkaitan darah haid yang terkena pakaian: “Hendaklah kamumengoreknya terlebih dahulu lalu kamu kucek dengan air. Setelah itu kamu siram dengan air dan barulah kamu boleh solat dengan memakai pakaian tsb.” (Muttafaq ‘alaih).

Makna Hadist :

Mematuhi undang-undang samawi dan ajaran Islam merupakan satu keharusan bagi umat manusia. Syariat Islam memerintahkan kita supaya sentiasa menjaga kebersihan dan membasuh najis yang terkena pakaian kita. Siti Hawa disiksa sebab membangkang perintah Allah. Dia terpaksa menjalani masa mengandung dan melahirkan anak dengan susah payah, di samping menjadikannya mengeluarkan darah sebulan sekali. Sejak itu Siti Hawa haid, lalu dikatakan kepadanya: “Telah ditetapkan atas dirimu dan anak-anak perempuan kamu berhaid.” Ia menjadi sebagian hidup kaum perempuan.

Kadang kala pakaian wanita yang haid terpalit darah haid oleh kerena itu, syariat Islam memerintahkan supaya bekas darah itu dikorek, lalu dikucek dan dicuci dengan air hingga ketiga-sifatnya (rasa, bau & warna) hilang.

Fiqh Hadist :

Hukum darah itu najis, maka wajib membasuh tempat yang terkena darah dengan air dan bersungguh-sungguh dalam menghilangkan dengan cara mengorek dan mengucek serta membasuhnya agar ain najasah hilang.

Cara menghilangkan

Baca juga   Bacaan-Bacaan Gerakan Dalam Sholat Lengkap Arab Lathin Beserta Artinya

semua najis dalam bentuk cair adalah menggunakan air. Dan nncaman keras pada orang melakukan pemubadziran ketika membasuh najis. Inilah makna yang terkandung dalam ungkapan al-nadh yang maknanyamenggunakan air secara tidak berlebihan dan tidak boleh mubadzir.

Ain najis berupa warna darah, jika sukar dihilangkan adalah dimaafkan, dengan syarat telah bersungguh-sungguh dalam membasuhnya demi untuk menghilangkan warnanya dst. Ini

berlandaskan kepada dalil yang akan disebut pada hadist berikut ini: “Dan tidak membahayakanmu ‘ain najasah yang masih ada itu.”

والله أعلم بالصواب اللهم انفعنابماعلمتما وعلمناماينفعناوارزقناعلما ينفعناوزدناعلماينفعنا، الفاتحة

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *