Kajian Hadist, Hukum Bersuci Menggunakan Air Yang Tergenang (Tidak Mengalir)

Posted on

hukum mandi besar dengan air tergenang

Kajian Hadist, Hukum Bersuci Menggunakan Air Yang Tergenang (Tidak Mengalir)Air merupakan bagian paling penting dalam bersucinya seseorang baik bersuci dari hadas maupun dari najis. Dengannya seorang Muslim terkadang tidak memperhatikan dalam keseharian ketika menggunakan air—terlebih bagi mereka yang benar-benar memperhatikan hukum fiqih—ada keragu-raguan di dalam hati perihal apakah air yang akan dipakai benar-benar dalam keadaan suci atau sudah menjadi najis karena satu dan lain hal.

عن أبى هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :”لا يغتسل أحدكم فى المآءالدائم وهو جنب” . اخرجه مسلم. وللبخاري “لايبولن أحدكم فى المآءالدائم الذي لا يجري ثم يغتسل فيه.” ولمسلم منه ولأبي داود”ولايغتسل فيه من الجنابة.”

Dari Abu Hurairah (r.a) bahwa Rasulullah (s.a.w) pernah bersabda:

“Janganlah seseorang dari kalian mandi didalam air yg tergenang, sedangkan dia dalam keadaan berjunub.” (Disebut oleh Muslim) Lafazd yg dikemukakan oleh Imam al-Bukhari seperti berikut:

“Jangan sekali-kali seseorang diantara kalian kencing didalam air yg tidak mengalir, kemudian mandi di dalam air itu.” Sedangkan menurut riwayat Muslim disebutkan “minhu” yg artinya “kemudian ia mandi dari air itu.”Riwayat yg dikemukakan oleh Abu Dawud sbb: “Dan janganlah seseorang mandi junub didalamnya (di dalam air yg tidak mengalir).”

Makna Hadist :

Hadist ini merupakan salah satu dasar yang membahas tentang masalah bersuci yg dianjurkan oleh syariat Islam. Melalui hadist ini Rasulullah (s.a.w) melarang orang yg berjunub mandi didalam air yg tergenang & tidak mengalir, sebab dikuatirkan akan mengakibatkan air menjadi berubah. Tujuan utama larangan ini ialah menjauhkan diri dari hal² kotor ketika bertaqarrub (ibadah mendekatkan diri) kepada Allah.

Baca juga   Rajin Beribadah, Hamba Ini Doanya Tidak Pernah Dikabulkan

Hadist ini mengandung larangan kencing sekaligus mandi didalam air yg tidak mengalir. Adapun larangan kencing didalam air yang tergenang maka ini disimpulkan dari riwayat yg dikemukakan oleh Imam Muslim. Riwayat Muslim mengatakan bahwa Nabi (s.a.w) melarang kencing dan mandi didalam air yg tergenang, apabila orang yang bersangkutan dalam keadaan berjunub.

Larangan ini menunjukkan hukum makruh bagi air yang banyak (lebih dari volume 2 kolah) dan haram bagi air yang jumlahnya sedikit (kurang dari ukuran 2 kolah).

Fiqh Hadist :

Orang yg berjunub dilarang mandi di dalam air yang tergenang (tidak mengalir).

Air yang tergenang tidak najis karena orang yang berjunub mandi di dalamnya, sebaliknya ia hanya menghapuskan sifat menyucikannya. Jadi, airnya masih boleh digunakan untuk keperluan lain kecuali untuk menghilangkan hadast dan menghilangkan najis.

Dilarang kencing di dalam air yang tergenang, sebab itu akan menyebabkan air menjadi tercemar.

Hadist ini membuktikan bahwa air kencing itu najis.

Dan dijelaskan dalam kitab al-muhadzab :

إذا تيقن طهارة الماء وشك في نجاسته توضأ به لأن الأصل بقاؤه على الطهارةوإن تيقن نجاسته وشك في طهارته لم يتوضأ به لأن الأصل بقاؤه على النجاسة وإن لم يتيقن طهارته ولا نجاسته توضأ به لأن الأصل طهارته فإن وجده متغيراً ولم يعلم بأي شيء تغير توضأ به لأنه يجوز ان يكون تغيره بطول المكث

Baca juga   Ciri-Ciri Turunnya Malam Lailatul Qadar Dibulan Ramadhan Sesuai Dengan Hadist Nabi

Artinya: “Bila seseorang meyakini sucinya air dan meragukan kenajisannya maka ia bisa berwudlu dengan air itu karena hukum asal air itu adalah tetap pada kesuciannya. Bila ia meyakini najisnya air dan meragukan kesuciannya maka ia tidak bisa berwudlu dengan air itu karena hukum asal air itu adalah tetap pada kenajisannya. Sedangkan bila ia tidak meyakini kesucian dan juga najisnya air maka ia bisa berwudlu dengan air tersebut karena hukum asal air itu adalah suci. Dan bila ia menemukan air telah berubah sifatnya namun tidak mengetahui apa yang menyebabkan perubahan tersebut maka ia bisa berwudlu dengan air itu karena bisa jadi perubahan itu dikarenakan lamanya air itu berdiam. (lihat Abu Ishak As-Syairazi, Al-Muhadzdzab, (Beirut: Darul Fikr, 2005), juz 1, hal. 14).

Sekian penjelasan tentang bersuci menggunakan air yang benar, maka dari itu kita haruslbih hati-hati untuk menentukanair yang digunakan untuk bersuci karena ibadah kita tergantung dengan kesucian diri kita masing-masing, semoga tulisan diatas bisa bermanfaat bagi kita semua. Amiin.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *